TAREKAT PETANI: FENOMENA TAREKAT SYATTARIYAH LOKAL

(Disarikan dari buku Prof. Dr. H. Nur Syam M.Si yang berjudul Tarekat Petani)

Dalam sejarah, Islam yang datang dan berkembang di Indonesia adalah islam yang bercorak sufistik. Dimana dalam kenyataanya ajaran islam dapat diterima dengan mudah oleh pribumi karena tidak ada benturan yang signifikan antara agama Islam dengan agama sebelumnya. Para penyebar agama Islam pun mampu memasukkan ajaran yang dapat diterima mereka, mampu mengakomodasi unsur esoteris pribumi sebagai warisan agama sebelumnya ke dalam sistem tasawuf. Sehingga ajaran tasawuf menjadi faktor penting dalam penyebarannya. Dengan demikian perkembangan islam tidaklah lepas dengan dunia tarekat.

Tarekat telah berkembang pesat di Indonesia setelah periode abad ke 13. Ada banyak tarekat yang telah menyebar di Indonesia dan sebagian merupakan tarekat sufi internasional. Namun hanya beberapa tarekat yang berhasil mendapatkan simpati rakyat yaitu antara lain tarekat Syadziliyah, tarekat Syattariyah, tarekat Qadiriyah, Khalwatiyah dan Naqsyabandiyah.

Dalam buku yang berjudul “Tarekat Petani”, sebagai hasil karya tulis Prof. Dr.H. Nur Syam, M. Si telah mengupas habis tentang tarekat Syattariyah. Dalam buku ini beliau menceritakan asal mula munculnya tarekat syattariyah sampai dengan perkembangannya. Asal mula berkembangnya tarekat ini adalah di Baghdad melalui jalur Ahmad Syatori kemudian dikembangkan oleh Ahmad Qusyasyi. Sedangkan di Nusantara, telah berkembang melalui jalur Abdurrauf al-Sinkili di Aceh, kemudian menyebar di Banten, Jawa Tengah Dan Jawa Timur.

Desa Kuanyar merupakan salah satu desa yang menjadi pusat berkembangnya tarekat Syattariyah pada tahun 1880 an. Janamin adalah santri yang diutus oleh Kiai Abdurrahman dari Bangle untuk menjadi khalifah disana. Yang kemudian dilanjutkan oleh Kiyai Abdul Hadi. Pada waktu itu tarekat ini tidak mengalami perkembangan yang begitu pesat. Kiyai Abdul Hadi memang tidak berusaha mencari murid sebanyak-banyaknya. Karena beliau hanya berkenan untuk membaiat orang-orang yang mau mengikuti tarekat ini dengan kesadarannya sendiri. Setelah Kiai Abdul Hadi wafat maka tarekat ini dilanjutkan oleh putranya Syihabuddin.

Tarekat merupakan suatu ajaran sebagai proses penyucian batin. Allah hanya melihat niat dan kecenderungan hati manusia. Dalam menyembah kepada Allah, maka yang diingat adalah makna yang terkandung dalam asma Allah bukan hanya sekedar pada dhohir asmanya saja.Sebagaimana hadits Nabi Muhammad yang berbunyi:

إن الله لا ينظر الى اجسامكم ولا الى صوركم ولكن ينظر إلى قلوبكم

Artinya “ Sesungguhnya Allah tidak melihat pada wujud lahirmu dan tidak juga melihat pada bentuk wajahmu, namun Allah melihat pada apa yang ada dihatimu”

Ada beberapa syarat yang harus terpenuhi ketika memasuki dunia tarekat.  Langkah yang pertama adalah harus mandi taubat yang dilaksanakan setelah sholat isya’. Kemudian membaca shalawat sebanyak 25 kali, yang diibaratkan sebagai pembuka kunci taubat agar mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Setelah itu dilanjutkan membaca fatichah yang ditujukan kepada guru tarekat, Malaikat Jibril, Syaikh Abdul Qadir Jailani, Nabi Muhammad S.A.W, Bopo Adam Ibu Howo serta gurunya semua guru.

 Kemudian langkah yang kedua adalah dilakukan pembaiatan. Ini adalah merupakan proses memasuki ajaran tarekat yang sebenarnya. Dalam hal ini hanya diketahui oleh murid dan mursyidnya. Setelah dibaiat, maka setiap setelah sholat sunnah rawatib, diharuskan membaca wirid la ilaha illa Allah sebanyak 400 kali. Dan setiap dapat bacaan wirid 100 kali, membaca kalimat ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi a’thini mahabbataka wa ma’rifataka.

Puasa mutih merupakan langkah yang ketiga dalam memasuki dunia tarekat. Yaitu puasa yang hanya boleh mengkonsumsi nasi putih dan air putih saja ketika sahur maupun berbuka puasa. Puasa ini dilakukan minimal 3 hari dan maksimal 21 hari.  Pada hari puasa terakhir akan diadakan slametan. Dan pada hari tersebut semua pantangan makan dihapuskan.

Dalam tarekat, dikenal banyak istilah dzikir. Tarekat Syattariyah menyebutnya dengan dzikir tahlil, yaitu dzikir yang dibaca dengan suara yang keras dan lafadznya adalah la ilaha illa Allah. Dengan membaca dzikir ini secara berulang-ulang maka akan dapat membakar dan menghilangkan segala dosa atau perbuatan buruk (nar al-dzikr). Kemudian membaca dzikir nabi itsbat, yang bertujuan untuk mencapai kebaikan (Nur al-dzikr). Ada juga yang disebut dengan dzikr ismu dzat, yaitu membaca dalam hati kalimat Allah-Allah dengan posisi mata terpejam. Demikian ini dilakukan ketika penganut tarekat sudah mencapai tingkatan lathifah tertentu.

Dalam tarekat Syattariyah lokal, ada beberapa jenis dan tingkatan dzikr lathifah, antara lain lathifah al-qalbi yaitu membaca dzikir sebanyak 6000 kali, kemudian lathifah sirr dengan membaca wirid sebanyak 7000 kali, selanjutnya lathifah khofi, membaca wirid sebanyak 8000 kali, lathifah nafs, yaitu pembacaan dzikir sebanyak 9000 kali. Adapun yang terakhir, adalah lathifah qalb , merupakan tingkatan lathifah yang paling tinggi, yaitu dengan membaca dzikir sebanyak 10.000 kali.

Dalam tahap selanjutnya, yaitu melaksanakan muqorobah. Dzikir yang digunakan dalam tahap ini disebut dengan dzikr ghaibul ghuyub dengan bacaan Hu. Ada empat tingkatan dalam muqorobah . Antara lain muqorobah aqrabiyah, yaitu mengintip Allah bahwa Allah itu amat dekat, lebih dekat dibandingkan dengan urat leher. Selanjutnya adalah muqorobah ma’iyah, dalam artian Allah itu Bersama kita namun tidak dalam bentuk wadagnya karena Allah tidak menyerupai dengan sesuatu apapun. Muqorobah Ahadiyah merupakan tahapan selanjutnya, bahwa Allah mempunyai sifat, dzat dan af’al yang esa yang berbeda dengan manusia dan yang tak dapat dipisahkan antara satu dan lainnya. Kemudian muqorobah ananiyah yaitu Allah dan manusia berada didalam satu kesaksian (wahdat al-syuhud). Adapun inti dari muqorobah adalah ma’rifat kepada Allah, mengetahui hakikat Allah. Inilah makna dari “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”  yang artinya “Siapapun yang mengetahui hakikat dirinya maka akan mengetahui hakikat tuhannya.

Pada dasarnya dalam tarekat dikenal tiga hal penting yaitu takholli, tahalli dan tajalli.arti takhalli adalah menjauhkan diri dari segala perbuatan yang buruk. Tajalli artinya berhias diri dengan perbuatan yang baik. Sedangkan Tajalli adalah berhias diri dengan cahaya Tuhan. Seseorang akan mencapai tiga hal ini apabila sudah memasuki dunia tarekat dengan berbagai ritualnya. Dalam tahap Takhalli, nafsu amarah dan lawwamah diarahkan untuk berubah menjadi nafsu muthmainnah dan radhiyah. Yaitu terwujudnya berbagai tindakan seperti ihklas, jujur, adil, khouf, shabar, tawakkal, syukur, qana’ah, ikhtiar dan mahabbah serta taqwa.

Berbicara tentang makhluk halus, penganut tarekat juga meyakini keberadaannya. Antara lain mereka mempercayai adanya malaikat. Malaikat adalah makhluk Allah yang kehidupannya hanya mengabdi kepada Allah karena mereka tidak memiliki nafsu. Berbeda dengan Jin dan setan. Meskipun sama-sama diciptakan dari api murni, namun jin dan setan diberi potensi nafsu oleh Allah.Dan setan menurut penganut tarekat adalah makhluk yang paling sombong karena telah berani menolak perintah Allah. Selain itu orang tarekat juga mempercayai adanya setan gundul, gendruwo, cenunuk atau memedi.

Bagi ahli tarekat, dimensi waktu itu terdiri dari empat bagian. Yang pertama yaitu alam arwah,yang disebut sebagai alam janji, Yakni janji manusia secara azali bahwa ia akan selalu melaksanakan perintah Allah. Yang kedua adalah alam dunya, alam yang dijalani di dunia ini. Kemudian alam kubur, yang disebut juga sebagai alam ngaweruhi janji.  Dan yang terakhir adalah alam akhirat. Yang mana dalam alam akherat ini semua manusia dihidupkan kembali dan diminta pertanggungjawaban semua amal ibadahnya selama di dunia.

Penganut tarekat disebut juga sebagai kaum santri. Adapun kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh kaum tarekat tersebut tidaklah berbeda dengan kaum santri lain, terutama wong NU. Misalnya amalan sholat, zakat, puasa dan haji. Namun yang berbeda adalan intensitas pengamalannya. Wong NU juga membaca dzikir yang relatif banyak jumlahnya, namun tidak terstruktur dan tersistematis seperti dzikirnya ahli tarekat. Karena bagi kaum tarekat dzikir merupakan amalan yang wajib dilaksanakan. Dan amalan wirid tersebut berjumlah tertentu tergantung maqamnya. Sedikit banyaknya jumlah wirid itu tergantung pada lamanya menjadi penganut tarekat.

Dalam tarekat Syattariyah, ada suatu kegiatan yang disebut dengan kegiatan tawajjuhan. Yaitu kegiatan pengajian khusus anggota tarekat dan bimbingan dari mursyid kepada murid-muridnya, dengan materi yang bervariasi yang terkait dengan pendalaman keislaman. Kegiatan tawajjuhan ini tidaklah diwajibkan namun sangat dianjurkan. Bagi yang tidak bisa mengikuti, maka jumlah wiridnya tidak bisa naik. Biasanya kegiatan ini dilakukan setelah usai melaksanakan sholat berjama’ah. Setelah selesai membaca wirid, seluruh peserta duduk tawarruk untuk siap menerima wejangan dari kiyai sebagai inti dari tawajjuhan.

ISLAM PESISIR

(Disarikan dari  Buku Islam Pesisir yang ditulis oleh Prof..Dr.Nur. Syam, M. Si)

Kajian tentang Keislaman merupakan kajian yang tidak akan pernah ada habisnya, dan tidak akan pernah jenuh untuk dibahas.  Islam Nusantara adalah salah satu obyek kajian yang saat ini lagi marak diperbincangkan banyak orang. Ketika saya mencoba searching di google tentang Islam Nusantara, maka yang saya dapatkan banyak sekali berita maupun artikel yang membahasnya., para pendakwah pun tak mau kalah ikut menjadikannya sebagai obyek kajian ceramahnya sehingga “Islam Nusantara” menjadi sesuatu yang  “viral”

Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara . Dalam hal ini, saya ingin mengupas tentang sejarah lahirnya Islam di Nusantara. Berdasarkan atas studi sejarah proses Islamisasi di Nusantara, maka perlu dibedakan antara istilah  kedatangan , penyebaran,  pelembagaan, serta pembaruan Islam.

Dalam buku Islam Pesisir, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si mengemukakan bahwa Kedatangan Islam di Nusantara telah menjadi perdebatan para ilmuwan sejarah, sehingga lahirnya empat teori besar, antara lain; teori yang dikenalkan oleh G.W.J drewes dan dikembangkan oleh Snouck Hurgronje, yang menyatakan bahwa Islam datang dari anak Benua India melalui perdagangan dari para orang Arab yang menetap di Gujarat dan Malabar, adapun mereka ini bermadzhab Syafi’i. Teori ini dianggap lemah, karena ketika terjadi pengislaman di Nusantara, Gujarat pada waktu itu masih dikuasai oleh kerajaan Hindu dan baru setahun kemudian ditaklukan oleh kerajaan Islam. Sedangkan Q.S Fatimi berpendapat bahwa Islam datang dari Bengal, terbukti dengan adanya kesamaan antara batu nisan makam Fatimah binti Maimun Leran Jawa Timur dengan batu nisan di Bengal. Namun teori inipun dianggap lemah karena ada perbedaan madzhab antara keduanya, yaitu madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanafi. Ada  teori lain yang menyatakan Islam datang dari Colomander dan Malabar, karena ada persamaan madzhab. Ini menurut pendapat Thomas W. Arnold dan didukung oleh Morrison. Sedangkan menurut pendapat Naguib al-Attas sejarawan Asia Tenggara bahwa Islam datang dari Arab yang merupakan sumber dari Islam itu sendiri,  Pendapat ini didukung oleh Crawfurd, Keyzer, Niemann, De Hollander dan Veth.

Islam datang di Asia Tenggara  pada abad ke Delapan Miladiyah atau abad ke satu Hijriyah, ini menurut para ahli sejarah dari Indonesia dan Malaysia, antara lain Syed Naquib al-Attas, S.Q. Fatimi dan Uka Tjandra Sasmita. Ada juga yang berpendapat Islam datang pada abad ke 13 M, pendapat ini dipelopori oleh sejarawan Belanda. Adapun penyebaran Islam melalui tiga metode, antara lain, oleh pedagang Muslim (menurut pendapat Sarjana-Sarjana barat khusunya Belanda, diantaranya Wertheim dan Pijnapel), oleh para da’i sufi , menurut Q.S Fatimi mereka datang dari wilayah Bengal. Sedangkan menurut L.W.C Van Den Berg, Hisyam Ahmad dan Azra , Islam disebarkan oleh masyarakat Islam yang datang dari Hadramut. Dan yang terakhir adalah pendapat yang menyatakan bahwa Islam disebarkan dengan kekuasaan atau memaklumkan perang terhadap negara-negara penyembah berhala.

Islam berkembang dan melembaga melalui peran Walisongo. Dalam hal ini peran pesisir utara sangat besar terutama abad ke 15 dan 16. Dalam pelembagaan Islam, walisongo menggunakan beberapa tahapan, yaitu mendirikan Masjid, mendirikan Pesantren dan mendirikan Kerajaan. Ada tiga tokoh yang paling berpengaruh terhadap pembaruan Islam yaitu, Muhammad Ibn Abd al- Wahab yang dikenal dengan gerakan  ortodoksi Islam “kembali kepada Al-qur’an dan Sunnah”. gerakan pembaruan pendidikan oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani dengan pembaruan dibidang sosio-politik.. Di Jawa, gerakan pembaruan dimunculkan oleh Haji Ahmad Dahlan dengan organisasi Muhammadiyah, 18 November 1912 di Yogyakarta. Kemudian muncul gerakan Nahdatul ulama (NU) sebagai reaksi terhadap gerakan tersebut , yang mendeklarasikan konsep ” menjaga Keutamaan yang dilakukan oleh ulama salaf yang saleh tetapi juga mengambil sesuatu yang baru yang lebih bermanfaat”.

Pembahasan tentang gerakan Muhammadiyah dan Gerakan NU, tak lepas dari pembahasan tentang Kecamatan Palang, kecamatan yang berada di wilayah pesisir utara Tuban , Kecamatan ini terdiri dari 19 desa. Penduduk Kecamatan Palang berjumlah 63.754 jiwa. Berdasarkan data demografis, jumlah nelayan di desa-desa pesisir secara berurutan adalah beragam, Desa Panyuran, desa Gesikharjo dengan jumlah nelayan relative sedikit. Sedangkan  desa Kradenan, desa Palang dan desa Karangangung jumlah nelayannya relative banyak. Secara geo-religius , yang lebih menonjol aspek kehidupan keagamaannya ialah desa pesisir seperti Panyuran, Kradenan, Gesikharjo, palang, leran Kulon, Glodok dan Karang agung. Sedangkan  secara Geo-politik, bentangan wilayahnya ialah daerah wilayah barat didominasi oleh PKB karena latar kultur ke-NU-an yang kuat, semakin ke timur lebih didominasi partai PAN karena kultur ke-muhammadiyah-annya semakin menguat.

masyarakat Palang Secara geografis terbagi menjadi dua, yaitu masyarakat pertanian dan masyarakat perikanan. Masyarakat pertanian berada disebelah selatan, mereka cenderung statis, monoton, , tertutup dan berwatak “halus”, sering ditipologikan sebagai masyarakat yang tradisional. Sedangkan  masyarakat perikanan di sebelah utara, masyarakat yang mudah berubah, , terbuka dan berwatak “keras”, sering ditipologikan sebagai masyarakat yang kosmopolit.

Adapun daerah pesisir yang sangat mencolok perkembangannya baik dari aspek social, ekonomi, politik dan religious  adalah desa karangangung. Desa ini telah menggambarkan suatu kehidupan masyarakat yang transisional (desa-kota) dalam arti yang sesungguhnya. Ini dibuktikan dengan adanya fenomena-fenomena yang terjadi di desa tersebut, antara lain, antar anggota masyarakat desa yang tempatnya berjauhan tidak saling mengenal secara personal, bukti atas semakin longgarnya ikatan segregasi dan impersonal di antara warga masyarakat. Terjadi perubahan yang signifikan dalam Interaksi antar anggota individu dalam masyarakat. Hubungan lelaki dan perempuan di desa-desa pesisir-panyuran, gesikharjo, kradenan, Palang dan Tuban lebih bebas sebagaimana pola hubungan masyarakat perkotaan, padahal mereka telah dibekali dengan pendidikan madrasah, lebih ironis lagi perilaku anak-anak muda di desa-desa ini, terutama di karangagung, sangat miris sekali, mereka banyak yang terlibat mabuk-mabukan. Dan tak jarang pula melakukan keonaran di desanya. Melihat fenomena ini sangatlah jelas bahwa pengaruh eksternal-lingkungan sosial- ternyata lebih dominan  dari-pada faktor internal-proses dan hasil pendidikan-dalam perilaku sehari-hari mereka. Semakin gencarnya arus informasi dan penetrasi media menyebabkan terjadinya perubahan kognitif atau orientasi kehidupan dan juga perilaku masyarakat.

Berkaitan dengan penyebaran Islam di Jawa, Palang juga merupakan sumber spiritual penting. Demikian ini dibuktikan dengan adanya Makam Syaikh Ibrahim Asmaraqandi  disini, sehingga keberadaannya merupakan sumber spiritual pertama dalam proses Islamisasi di Jawa. Dengan demikian Palang merupakan lokus penting dalam proses penyebaran Islam di Jawa dalam artian luas. Disamping itu telah banyak dijumpai makam-makam penyebar Islam generasi awal tersebut.

Secara geografi, memang kecamatan Palang terbelah menjadi dua, yaitu: wilayah barat dengan religio-kultural NU dan sebelah timur dengan religio-kultural Muhammadiyah. Di desa Palang hanya terdapat satu masjid berafiliasi kultural NU, di desa gesikharjo terdapat dua masjid yang berafiliasi kultural NU juga. Kradenan terdapat dua masjid, satu berafiliasi NU dan satunya berafiliasi Muhammadiyah. Yang menarik lagi, dari nama-nama masjid tersebut sudah dapat diketahui ke mana paham dan afiliasi keorganisasian orang-orang yang terlibat di dalamnya,apakah  wong Muhammadiyah ataukah wong NU.

Ditinjau dari trasmisi keilmuan dan pengaruhnya terhadap jenis paham keagamaan di desa-desa di kecamatan Palang, maka dapat dipahami bahwa afiliasi ke -NU-an atau ke-Muhammadiyah-an adalah berasal dari jalur transmisi barat dan timur. Berdasarkan variasi sumber transmisi keilmuan, dapat menggambarkan bahwa jalur transmisi dan sumber keilmuan ternyata memiliki konstribusi besar terhadap pola dan model paham keagamaan di suatu lokus tertentu.

Inilah Aktivitas Baruku,….Ayo Ainun…Semangat!!!!!

Senin, 10 September 2018, tepatnya jam 07.30 saya bergegas melangkahkan kaki menuju Twin Tower B lantai 7 karena pada jam tersebut ada aktivitas dan rutinitas baru yang akan saya jalani, yaitu menjadi mahasiswa baru pada Pascasarjana program Doktoral Dirosah Islamiyah. Setiba saya di ruangan 704, saya terkesima karena ternyata Dosen pada mata kuliah jam pertama sudah hadir di dalam kelas, Beliau adalah Profesor. Dr. Nur Syam, M.Si , sedangkan mahasiswanya masih hanya satu yang hadir, yaitu Mbak Umi Hanifah, panggilan akrab saya pada dia, kebetulan kita satu tim di Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Ampel sebagai Dosen pada Prodi Pendidikan Bahasa Arab. Mahasiswa program Doktoral Dirosah Islamiyah yang masuk pada tahun ajaran 2018-2019 ini hanya kami berempat. Saya, Mbak Umi dan dua orang laki-laki  bernama pak Faisal Agil dan Pak Miwan yang juga menjadi dosen di kampus lain. Otomatis kelas kelihatan kosong melompong pada saat itu, akhirnya saya masuk pelan-pelan dan mengucapkan salam dan mengajukan permohonan maaf kepada Beliau, karena ternyata saya telat 5 menit dari waktu yang ditentukan.

Tepat pada jam 07.20 Prof Nur Syam memulai perkuliahan dengan mengucapkan salam, meskipun pada waktu itu hanya masih ada kami berdua. Dua teman saya baru memasuki ruangan kuliah beberapa menit kemudian. Di awal kesempatan, beliau bercerita tentang rutinitas baru beliau, yaitu menjabat kembali sebagai Profesor dan Dosen di Kampus UIN Sunan Ampel, yang mana sebelumnya beliau menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI. Selanjutnya beliau memberikan materi pertama dengan menyampaikan kisi-kisi materi yang berkaitan dengan mata kuliah yang beliau ampu yaitu Paradigma Ilmu Sosial, Humaniora dan Agama. Beliau memberikan informasi kepada kami berbagai referensi buku terkait mata kuliah, dan kami berempat  berdecak kagum, ternyata semua referensi itu adalah hasil karya tulis beliau sendiri.

Bagi saya Prof Nur Syam figur yang perlu diteladani bagi semua mahasiswa di UIN Sunan Ampel pada umumnya dan bagi kami di Pascasarjana program Doktoral Islamiyah khususnya. Beliau  adalah seorang penulis banyak buku di segala bidang keilmuan yang bisa menjadi rujukan kaum intelektual dalam pengembangan keilmuannya. Ada kesan yang luar biasa yang kami rasakan, yaitu motivasi beliau kepada kami untuk gemar dan terbiasa menulis apapun yang bisa kami tulis di Blog. Ini yang selama ini belum sempat saya lakukan. Selama ini saya hanya berkutat dengan kegiatan mengajar di Prodi PBA, Melakukan penelitian, disamping saya juga melaksanakan  rutinitas tugas di kantor karena mendapatkan tugas tambahan selain menjadi dosen. Akhirnya Blog inilah pengantar bagi saya untuk mengejawantahkan amanah dari Beliau. Semoga Blog ini merupakan langkah awal bagi saya untuk selalu menuangkan ide dan pikiran saya terkait dengan hal apapun yang ingin saya tulis . inilah aktivitas baruku…Ayo Ainun….Semangat!!!!!!