ISLAM PESISIR

(Disarikan dari  Buku Islam Pesisir yang ditulis oleh Prof..Dr.Nur. Syam, M. Si)

Kajian tentang Keislaman merupakan kajian yang tidak akan pernah ada habisnya, dan tidak akan pernah jenuh untuk dibahas.  Islam Nusantara adalah salah satu obyek kajian yang saat ini lagi marak diperbincangkan banyak orang. Ketika saya mencoba searching di google tentang Islam Nusantara, maka yang saya dapatkan banyak sekali berita maupun artikel yang membahasnya., para pendakwah pun tak mau kalah ikut menjadikannya sebagai obyek kajian ceramahnya sehingga “Islam Nusantara” menjadi sesuatu yang  “viral”

Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara . Dalam hal ini, saya ingin mengupas tentang sejarah lahirnya Islam di Nusantara. Berdasarkan atas studi sejarah proses Islamisasi di Nusantara, maka perlu dibedakan antara istilah  kedatangan , penyebaran,  pelembagaan, serta pembaruan Islam.

Dalam buku Islam Pesisir, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si mengemukakan bahwa Kedatangan Islam di Nusantara telah menjadi perdebatan para ilmuwan sejarah, sehingga lahirnya empat teori besar, antara lain; teori yang dikenalkan oleh G.W.J drewes dan dikembangkan oleh Snouck Hurgronje, yang menyatakan bahwa Islam datang dari anak Benua India melalui perdagangan dari para orang Arab yang menetap di Gujarat dan Malabar, adapun mereka ini bermadzhab Syafi’i. Teori ini dianggap lemah, karena ketika terjadi pengislaman di Nusantara, Gujarat pada waktu itu masih dikuasai oleh kerajaan Hindu dan baru setahun kemudian ditaklukan oleh kerajaan Islam. Sedangkan Q.S Fatimi berpendapat bahwa Islam datang dari Bengal, terbukti dengan adanya kesamaan antara batu nisan makam Fatimah binti Maimun Leran Jawa Timur dengan batu nisan di Bengal. Namun teori inipun dianggap lemah karena ada perbedaan madzhab antara keduanya, yaitu madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanafi. Ada  teori lain yang menyatakan Islam datang dari Colomander dan Malabar, karena ada persamaan madzhab. Ini menurut pendapat Thomas W. Arnold dan didukung oleh Morrison. Sedangkan menurut pendapat Naguib al-Attas sejarawan Asia Tenggara bahwa Islam datang dari Arab yang merupakan sumber dari Islam itu sendiri,  Pendapat ini didukung oleh Crawfurd, Keyzer, Niemann, De Hollander dan Veth.

Islam datang di Asia Tenggara  pada abad ke Delapan Miladiyah atau abad ke satu Hijriyah, ini menurut para ahli sejarah dari Indonesia dan Malaysia, antara lain Syed Naquib al-Attas, S.Q. Fatimi dan Uka Tjandra Sasmita. Ada juga yang berpendapat Islam datang pada abad ke 13 M, pendapat ini dipelopori oleh sejarawan Belanda. Adapun penyebaran Islam melalui tiga metode, antara lain, oleh pedagang Muslim (menurut pendapat Sarjana-Sarjana barat khusunya Belanda, diantaranya Wertheim dan Pijnapel), oleh para da’i sufi , menurut Q.S Fatimi mereka datang dari wilayah Bengal. Sedangkan menurut L.W.C Van Den Berg, Hisyam Ahmad dan Azra , Islam disebarkan oleh masyarakat Islam yang datang dari Hadramut. Dan yang terakhir adalah pendapat yang menyatakan bahwa Islam disebarkan dengan kekuasaan atau memaklumkan perang terhadap negara-negara penyembah berhala.

Islam berkembang dan melembaga melalui peran Walisongo. Dalam hal ini peran pesisir utara sangat besar terutama abad ke 15 dan 16. Dalam pelembagaan Islam, walisongo menggunakan beberapa tahapan, yaitu mendirikan Masjid, mendirikan Pesantren dan mendirikan Kerajaan. Ada tiga tokoh yang paling berpengaruh terhadap pembaruan Islam yaitu, Muhammad Ibn Abd al- Wahab yang dikenal dengan gerakan  ortodoksi Islam “kembali kepada Al-qur’an dan Sunnah”. gerakan pembaruan pendidikan oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin al-Afghani dengan pembaruan dibidang sosio-politik.. Di Jawa, gerakan pembaruan dimunculkan oleh Haji Ahmad Dahlan dengan organisasi Muhammadiyah, 18 November 1912 di Yogyakarta. Kemudian muncul gerakan Nahdatul ulama (NU) sebagai reaksi terhadap gerakan tersebut , yang mendeklarasikan konsep ” menjaga Keutamaan yang dilakukan oleh ulama salaf yang saleh tetapi juga mengambil sesuatu yang baru yang lebih bermanfaat”.

Pembahasan tentang gerakan Muhammadiyah dan Gerakan NU, tak lepas dari pembahasan tentang Kecamatan Palang, kecamatan yang berada di wilayah pesisir utara Tuban , Kecamatan ini terdiri dari 19 desa. Penduduk Kecamatan Palang berjumlah 63.754 jiwa. Berdasarkan data demografis, jumlah nelayan di desa-desa pesisir secara berurutan adalah beragam, Desa Panyuran, desa Gesikharjo dengan jumlah nelayan relative sedikit. Sedangkan  desa Kradenan, desa Palang dan desa Karangangung jumlah nelayannya relative banyak. Secara geo-religius , yang lebih menonjol aspek kehidupan keagamaannya ialah desa pesisir seperti Panyuran, Kradenan, Gesikharjo, palang, leran Kulon, Glodok dan Karang agung. Sedangkan  secara Geo-politik, bentangan wilayahnya ialah daerah wilayah barat didominasi oleh PKB karena latar kultur ke-NU-an yang kuat, semakin ke timur lebih didominasi partai PAN karena kultur ke-muhammadiyah-annya semakin menguat.

masyarakat Palang Secara geografis terbagi menjadi dua, yaitu masyarakat pertanian dan masyarakat perikanan. Masyarakat pertanian berada disebelah selatan, mereka cenderung statis, monoton, , tertutup dan berwatak “halus”, sering ditipologikan sebagai masyarakat yang tradisional. Sedangkan  masyarakat perikanan di sebelah utara, masyarakat yang mudah berubah, , terbuka dan berwatak “keras”, sering ditipologikan sebagai masyarakat yang kosmopolit.

Adapun daerah pesisir yang sangat mencolok perkembangannya baik dari aspek social, ekonomi, politik dan religious  adalah desa karangangung. Desa ini telah menggambarkan suatu kehidupan masyarakat yang transisional (desa-kota) dalam arti yang sesungguhnya. Ini dibuktikan dengan adanya fenomena-fenomena yang terjadi di desa tersebut, antara lain, antar anggota masyarakat desa yang tempatnya berjauhan tidak saling mengenal secara personal, bukti atas semakin longgarnya ikatan segregasi dan impersonal di antara warga masyarakat. Terjadi perubahan yang signifikan dalam Interaksi antar anggota individu dalam masyarakat. Hubungan lelaki dan perempuan di desa-desa pesisir-panyuran, gesikharjo, kradenan, Palang dan Tuban lebih bebas sebagaimana pola hubungan masyarakat perkotaan, padahal mereka telah dibekali dengan pendidikan madrasah, lebih ironis lagi perilaku anak-anak muda di desa-desa ini, terutama di karangagung, sangat miris sekali, mereka banyak yang terlibat mabuk-mabukan. Dan tak jarang pula melakukan keonaran di desanya. Melihat fenomena ini sangatlah jelas bahwa pengaruh eksternal-lingkungan sosial- ternyata lebih dominan  dari-pada faktor internal-proses dan hasil pendidikan-dalam perilaku sehari-hari mereka. Semakin gencarnya arus informasi dan penetrasi media menyebabkan terjadinya perubahan kognitif atau orientasi kehidupan dan juga perilaku masyarakat.

Berkaitan dengan penyebaran Islam di Jawa, Palang juga merupakan sumber spiritual penting. Demikian ini dibuktikan dengan adanya Makam Syaikh Ibrahim Asmaraqandi  disini, sehingga keberadaannya merupakan sumber spiritual pertama dalam proses Islamisasi di Jawa. Dengan demikian Palang merupakan lokus penting dalam proses penyebaran Islam di Jawa dalam artian luas. Disamping itu telah banyak dijumpai makam-makam penyebar Islam generasi awal tersebut.

Secara geografi, memang kecamatan Palang terbelah menjadi dua, yaitu: wilayah barat dengan religio-kultural NU dan sebelah timur dengan religio-kultural Muhammadiyah. Di desa Palang hanya terdapat satu masjid berafiliasi kultural NU, di desa gesikharjo terdapat dua masjid yang berafiliasi kultural NU juga. Kradenan terdapat dua masjid, satu berafiliasi NU dan satunya berafiliasi Muhammadiyah. Yang menarik lagi, dari nama-nama masjid tersebut sudah dapat diketahui ke mana paham dan afiliasi keorganisasian orang-orang yang terlibat di dalamnya,apakah  wong Muhammadiyah ataukah wong NU.

Ditinjau dari trasmisi keilmuan dan pengaruhnya terhadap jenis paham keagamaan di desa-desa di kecamatan Palang, maka dapat dipahami bahwa afiliasi ke -NU-an atau ke-Muhammadiyah-an adalah berasal dari jalur transmisi barat dan timur. Berdasarkan variasi sumber transmisi keilmuan, dapat menggambarkan bahwa jalur transmisi dan sumber keilmuan ternyata memiliki konstribusi besar terhadap pola dan model paham keagamaan di suatu lokus tertentu.

4 Replies to “ISLAM PESISIR”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *