Batu Besar, Ada apa?

batu kehidupanMuhammad Thohir | MTC Indonesia | Dr. Stephen R. Covey:

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA. Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata, “Okay, sekarang waktunya untuk quiz.” Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember. Ia bertanya pada kelas, “Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?” Semua mahasiswa serentak berkata, “Ya!”

Dosen bertanya kembali, “Sungguhkah demikian?” Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-ker ikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas,
“Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?” Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab, “Mungkin tidak.”

“Bagus sekali,” sahut dosen. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, “Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?” “Belum!” sahut seluruh kelas.

Sekali lagi ia berkata, “Bagus. Bagus sekali.” Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, “Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?”

Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, “Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya.”

“Oh, bukan,” sahut dosen, “Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa: bila anda tidak memasukkan “batu besar” terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya.”

Apa yang dimaksud dengan “batu besar” dalam hidup anda? Anak-anak anda; Pasangan anda; Pendidikan anda; Hal-hal yang penting dalam hidup anda; Mengajarkan sesuatu pada orang lain; Melakukan pekerjaan yang kau cintai; Waktu untuk diri sendiri; Kesehatan anda; Teman anda; atau semua yang berharga.

Ingatlah untuk selalu memasukkan “Batu Besar” pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestin ya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.

Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri: “Apakah “Batu Besar” dalam hidup saya?” Lalu kerjakan itu pertama kali.” 🙂

6 Replies to “Batu Besar, Ada apa?”

  1. ustadz saya mau tanya mengenai peristiwa batu besar ini yang disamakan dg prstwa manusia belajar. kalau pikiran atau otak manusia itu lebih baik diisi sedikit demi sedikit dg sesuatu yg beranfaat kemudian, bagaimana kita sebagai manusia bisa memilah dan memilih suatu ilmu atau pendidikan yg sesuai & bermanfaat bg dri kita dan org lain???karna perasaan bingung kadang muncul mengenai mna yg baik & yg buruk.

    1. Peristiwa batu besar ini mengajarkan kita utk membuat SKALA PRIORITAS, mana bagian yg pakling penting dan besar manfaatnya bg kita, maka kita harus mendahulukannya. Jangan smp terjebak ngurusi masalah sepele2, sehingga yg paling penting tdk tercapai. Jk yg paling penting itu ttg keilmuan, mk ilmu apa yg paling berpengaruh bg kehidupan anda kedepan, itu diutamakan. Contoh sederhana, sorg mhsw gak selesai2 studinya krn hanya ngurusi kegiatan ekstra atau yg lain dan malah melupakan studinya. Dan perlu diingat, setiap SKALA PRIORITAS setiap kehidupan manusia TDK BISA DIGENERALISASIkan. Jd, itu tergantung masing2 orang. Sy kira, anda bisa mengambil contoh sendiri… salam sukses 🙂

      1. terimaksih ustadz. alhamdulillah saya bisa mengambil kesimpulan dari penjelasan ustadz dan insyallah saya dapat mengambil contohnya.

  2. waw….ilustrasi yg sgt membangun.
    ustadz, cerita dalam ilustrasi ini mengingatkankan saya ketika makan jagung bersama kawan saya (lomba makan jagung, hehe..) saat itu secara spontan,teman saya memulai makan dari ujungnya dan saya dari pangkalnya. di sela-sela itu kami berfikir sejenak, mengapa kita melakukan hal demikian (memulai dr ujung atau pangkal)kami sempat berdiskusi dan mnyimpulkan bahwa hal demikian berpengaruh dalam penyelesaian suatu persoalan yang dipengaruhi oleh watak kita masing2..
    berhubungan dg ilustrasi “batu besar” ustadz di atas, apakah benar, dalam menetukan skalaprioritas itu ditentukan oleh watak dan karakter masing2 individu???
    mutasyakk3r awy, 🙂

    1. kalo kita mengikuti madhab behaviorisme, maka sebenarnya gak ada bawaan/watak itu, semuanya ditentukan oleh bgm diri belajar & meniru alam sekitarnya. Ilustrasi ini mengajarkan sejauhmana efektif tdknya sebuah rangkaian kerja, yg mana hrs didahulukan, yg mana hrs diakhirkan. Nah, utk crt mkn jagungnya, crti itu unik, tp scra “illat” tdk persis sama dg ilustrasi ini, shg kurang tepat di-“qiyas”kan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *