Eksperimen Gestalt

Hasil eksperimen dari teori Gestalt salah satunya yaitu percobaan seekor Simpanse. Percobaan ini dilakukan oleh seorang tokoh dalam teori Gestalt, yakni Wolfgang Kohler. Beliau ingin menjelaskan bahwa Simpanse akan merespon suatu kejadian di sekitarnya dengan pemahaman atau insight. Selain itu, Simpanse juga menghubungkan suatu hal (masalah) tersebut dengan alat atau sarana yang ada di sekitarnya. Dengan cara dan strategi itulah masalah yang dihadapi Simpanse dapat diselesaikan.

Eksperimen I
Simpanse dimasukkan ke dalam suatu sangkar, sedangkan di sekeliling sangkar tersebut ada sebatang tongkat, dimana sangkar tersebut diberi sebuah pisang dan diletakkan di sebelah atas sangkar.
Awalnya, Simpanse berusaha untuk mengambil pisang yang diletakkan di atas sangkar tersebut. Akan tetapi, Simpanse selalu gagal karena tangannya tidak sampai meraih pisang tersebut. Kemudian, Simpanse melihat sebatang tongkat dan Simpanse berinisiatif untuk meraih pisang itu dengan menggunakan tongkat.
Akan tetapi, dengan sebatang tongkat saja masih belum bisa meraih pisang yang diinginkan Simpanse. Di situlah Simpanse berinisiatif yang kedua kalinya menggabungkan satu batang tongkat dengan sebatang tongkat lainnya. Setelah itu, Simpanse terus berusaha mengambil pisang dan akhirnya berhasil diraihnya.

Eksperimen II
Ada sebuah sangkar, dimana pisang digantung di atas sangkar sehingga Simpanse tidak dapat meraih pisang tersebut. Sedangkan di sudut sangkar tersebut, terdapat kotak yang kuat untuk dinaiki dan muncullah insight dari Simpanse karena melihat kotak dan bergegas untuk mengambil kotak untuk dinaikinya dan akhirnya Simpanse dapat mengambil pisang.

Eksperimen III
Ayam dan Simpanse dimasukkan dalam sangkar. Sebuah pisang diletakkan di luar jangkauan ayam dan Simpanse. Awalnya ayam atau Simpanse merasa kesulitan untuk mengambil pisang. Kemudian timbul insight dengan berinisiatif melakukan tindakan dengan jalan memutar untuk memudahkan mengambil pisang. Dengan menerapkan inisiatifnya, ternyata ayam mengalami kesulitan sedangkan Simpanse berhasil meraih pisang tersebut. Dari kesamaan strategi di atas menunjukkan bahwa setiap hewan mempunyai insight sendiri-sendiri begitu juga dengan penyelesaian masalahnya.

Implikasi teori percobaan Kohler dalam proses pembelajaran
Hasil eksperimen Kohler dalam proses pembelajaran anak didik diterangkan :

  1. Insight (pemahaman) diperoleh apabila anak didk melihat atau memperoleh suatu masalah dan dalam situasi tertentu. Dengan adanya insight, maka didapatlah pemecahan dari suatu masalah tersebut.
  2. Guru sebaiknya menyusun strategis dalam memilih metode dan menggunakan media pembelajaran yang tepat, dan itu salah satu cara dalam pembentukan insight.
  3. Proses pembelajaran akan berjalan efektif, apabila anak didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Selain itu guru mempunyai tanggung jawab untuk membantu anak didik dengan cara memahami tujuan pembelajaran tersebut.
  4. Proses pembalajaran dikatakan berhasil, jika anak didik mampu menangkap suatu pokok permasalahan dan dapat memecahkan masalsh dalam situasi apapun dan guru hendaknya dapat membantu anak didik untuk menguasai pokok materi yang diajarkannya.

Hasil diskusi dari eksperimen Teory Gestalt
Pertanyaan:

  1.  Aplikasikan teory Gestalt dalam kehidupan sehari-hari?
  2. Bagaimana aplikasi teory Gestalt pada pembelajaran anak TK?
  3. Bagaimanakah solusinya bila ada suatu permasalahan sebagai berikut: “Ada seorang guru dalam lembaga suatu pendidikan, dimana seorang guru tersebut mengajar tanpa memperhatikan kondisi muridnya lebih tepatnya lagi dalam hal pemahaman seorang murid!”
  4. Bagaimana menurut pendapat Anda bila dihadapkan suatu masalah sebagai berikut:
  • Bila ada sebuah kelas dimana di dalam kelas tersebut terdapat anak yang pandai dan ada anak yang kurang begitu pandai. Untuk menciptakan suatu kelas yang nyaman dan adanya transfer keilmuan, seorang guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok dimana per kelompok tersebut terdapat anak yang pandai dan ada anak yang kurang begitu pandai.
  • Sistem pembagian kelas Intensif di IAIN Sunan Ampel Surabaya dimana sistem pembagiannya dibuat level-level dimulai A menduduki level tertinggi.

Penyelesaian

  1. Teory Gestalt adalah suatu teory pembelajaran yang lebih mengutamakan Insight atau pemahaman. Contoh: Bila ada suatu kelas yang levelnya tinggi atau dapat dikatakan unggulan dimana kebanyakan siswanya terkenal pandai, cerdas akan tetapi cenderung individualis. Bagaimanakah upaya seorang guru yang mengajar di kelas tersebut untuk mengubah suatu kelas agar lebih sosialis antara yang satu dengan yang lainnya? Cara penyelesaian: awalnya guru mengajar seperti biasanya yakni memberikan materi terhadap murit-muritnya. Setelah memberikan materi dan mengetahui kondisi kelas muncul pemahaman seorang guru tersebut dengan timbulnya pertanyaan bagaimana materi dapat diserap sepenuhnya oleh seorang murit bila individu di dalamnya terkenal kurang sosialis terhadap teman atau orang lain di sekitar? Bagaimana caranya agar kelas yang diajarkan selain inteleknya maju juga sosialisnya yang maju? Setelah timbul pertanyaan-pertanyaan di atas segeralah guru menyusun strateginya dengan pertama memberikan cerita-cerita yang menarik dan inspiratif tentang menjadi orang yang sosialis. Setelah memberikan cerita-cerita yang menarik kemudian guru melihat respon dari murit-murit. Kalau belum terjadi perubahan maka guru menyusun strategi lagi dengan melakukan out bond agar semua siswa dapat kenal dan lebih cenderung sosialis. Kemudian bila strategi itu kurang berhasil maka dengan mengadakan rekreasi atau berkemah di suatu tempat yang disetujui murit-murit. Setelah dirasa berhasil terciptalah suasana kelas yang diinginkan yaitu kondisi kelas yang intelektual dan sosialis.
  2. Aplikasi Teory Gestalt pada pembelajaran anak TK mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Awalnya seorang guru TK akan merasa ditantang dengan dihadapkan pada anak TK yang cenderung masih bersifat kekanak-kanakan. Selain itu juga harus dituntut untuk bersabar dan penuh ketekunan untuk menghadapinya. Untuk memasuki dunia anak-anak tentunya seorang guru harus melakukan pendekatan pada anak didiknya terutama pada anak TK. Salah satu cara untuk melakukan pendekatan bisa dengan mengajak anak tersebut bermain-main yang tentunya menyesuaikan keinginan anak tersebut. Pada pendekatan ini seakan-akan guru masuk pada dunia anak-anak. Dalam dunia anak-anak pada hakikatnya fungsi seorang guru bukan hanya sebagai seseorang yang berkewajiban mendidik akan tetapi juga sebagai teman bahkan sebagai sahabat dekat anak tersebut. Dengan adanya pendekatan tersebut membuat anak merasa enjoy dan nyaman dalam melakukan pembelajaran sehari-hari baik dalam bidang akademik maupun dalam bidang non akademik. Selain dengan pendekatan tersebut bisa juga dengan memberikan stimulus pada anak dengan memberikan sebuah hadiah pada anak agar anak merasa tertarik dan tergerak hati dan perasaannya untuk merespon stimulus yang telah diberikan. Sehingga, dengan pendekatan dan strategi tersebut tercipta interaksi yang baik antara seorang guru dan anak tersebut serta meningkatkan kemampuan anak dalam bidang intelek dan sosial.
  3. Menanggapi permasalahan tersebut berarti subyek pembelajaran di sini yakni para murid yang dihadapkan pada masalah gurunya yang tidak memperhatikan kondisi intelektual murid-muridnya. Agar guru mengetahui akan hal tersebut dan dapat merubah metode pengajarannya, murid-murid berinisiatif dengan memberikan kritikan dan saran pada pada guru tersebut dengan menuliskannya melalui kertas kecil yang nantinya diberikan pada guru yang bersangkutan. Jikalau belum berhasil, bisa saja murid-murid melakukan sindiran yang mendukung yang nantinya dapat menggugah dan menyadarkan guru tersebut. Bila dirasa belum berhasil lagi, murid-murid bisa melakukan suatu tindakan yang terkesan brutal. Brutal dalam pengertian di sini bermakna positif yakni semata-mata ingin menyadarkan guru tersebut.
  4. Menurut pendapat kami, kedua permasalahan tersebut ada segi positif dan negatifnya.
  • Untuk permasalahan pertama, segi positifnya yakni adanya transfer keilmuan antara murid yang pandai dan yang kurang pandai selama keduanya merasa nyaman dan tidak adanya anggapan perbedaan antara keduanya. Sedangkan dari segi negatifnya, antara murid yang pandai dengan murid yang kurang begitu pandai kurang bisa mengimbangi, dipastikan akan adanya salah satu pihak yang merasa ketinggalan dan ada salah satu pihak yang merasa lambat dalam hal pemahaman intelektual.
  • Untuk permasalahan yang kedua, segi positifnya yakni tidak adanya rasa ketertinggalan antara keduanya. Selain itu, motivasi antara keduanya lebih tinggi dikarenakan lingkungan yang mendukung yakni dengan disendirikan antara yang pandai dengan yang kurang pandai. Sedangkan dari segi negatifnya, adanya anggapan perbedaan status sosial di antara murid yang pandai dengan murid yang kurang begitu pandai.

Sumber: Diskusi kelas Kelompok 8 with:  Afwan Faizin | Vivi Ekayanti | Zumrotus Sa’adah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *