Aplikasi Eksperimen Gestalt

Sebelum menginjak kepada hasil eksperimen dari teori gestalt, setidaknya lebih dahulu kita mengetahui apakah arti dari Insight itu? Karena menurut pandangan gestaltis, semua kegiatan belajar menggunakan insight atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan. Insight adalah didapatkannya pemecahan problem, dimengertinya persoalan; inilah intinya belajar. Jadi, yang penting bukanlah mengulang-ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight. Bisa disimpulkan dalam artian yang sederhana insight adalah memecahkan problem, mendapatkan pencerahan (Insight).

Hilgard memberikan macam-macam sifat belajar dengan insight itu, adalah sebagai berikut:

  1. Insight itu tergantung kepada kemampuan dasar
  2. Insight itu tergantung pada masa lampau yang relevan
  3. Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental
  4. Insight itu didahului oleh suatu periode mencoba-coba
  5. Belajar dengan Insight itu dapat diulang-ulangi
  6. Insight yang telah sekali didapatkan dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.

Selanjutnya menginjak kepada hasil eksperimen dari teori gestalt. Ada beberapa hasil eksperimen dari teori yang pernah dilakukan oleh Wolfgang Kohler (salah satu tokoh dari teori gestalt), yaitu sebagai berikut:

Pertama, dalam menguji kebenaran dalam teori Gestalt ini, Wolfgang Kohler menggunakan sejumlah eksperimen. Salah satu eksperimennya adalah masalah untuk memecahkan jalan memutar, dimana hewan melihat tujuannya. Di sini Wolfgang Kohler menggunakan hewan ayam, ayam terletak di dalam sebuah kurungan, dimana kurungan itu di satu sisinya terbuka. Di luar kurungan terdapat makanan ayam, sehingga ayam itu harus berjalan memutar untuk bisa mencapai tujuannya. Dalam hal ini bahwa ayam teramat kesulitan.

Percobaan yang kedua, yaitu  mengharuskan menggunakan alat untuk menjangkau objek yang diinginkan atau tujuan yang diinginkan. Kita ambil contoh monyet, sebuah makanan yang disukai monyet, yaitu pisang diletakkan diluar jangkauan monyet tersebut, sehingga monyet itu harus menggunakan alat untuk menjangkaunya.

Adapun tujuan Wolfgang Kohler dalam melakukan eksperimen di atas adalah  dimana Kohler memberikan asumsi bahwa ketika suatu makhluk mengalami suatu masalah maka akan muncul suatu keadaan keingin tahuan, keadaan ini terus berlanjut sampai maslah itu selesai. Sebab menurut teoritist gestalt, keadaan tersebut yang memberikan motifasi suatu makhluk berusaha untuk kembali menyeimbangkan mentalnya. Pembelajaran dari hal itu adalah memikirkan segala unsur yang dibutuhkan dalam memecahkan suatu masalah dan menyimpulkanya menjadi suatu solusi yang kemudian mendukung solusi berikutnya hingga masalah itu terpecahkan.

Dalam teori gestalt ada pula aplikasi-aplikasi di dalamnya, seperti disebutkan oleh Alim Sumarno sebagai berikut:

  1. Pengalaman Insight: Bahwa insight memegang peranan yang penting dalam kemampuan mengenal keterkaitan setiap unsur dalam suatu obyek.
  2. Meaningful Learning: Pembelajaran yang bermakna. Jadi, semakin jelas makna maka akan makin efektif sesuatu yang dipelajari.
  3. Purposive Behavior: Perilaku bertujuan, bahwa perilaku terarah pada tujuan.  Contoh, peserta didik harus mengetahui apa yang hendak ia tuju dalam studinya.
  4. Life Space: Prinsip ruang hidup. Bisa dicontohkan sebagai berikut, materi yang akan diajarkan pendidik hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
  5. Transfer dalam belajar,  hal ini akan terjadi apabila anak didik bisa menangkap pokok-pokok dari suatu permasalahan dan menemukan kesimpulan untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah

Sumber: Hasil Diskusi Kelas Kelompok 9 with Muhammad Afthon Ulin Nuha | Afit Endah Rianti | Nur Risma Amaliyah (PBA kelas B, Semester 2)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *