Pembelajaran Shorof

A.    Pengertian

Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang dapat membedakan makna, maksudnya makna adalah makna fungsional bukan makna kamus[1]. (ashghoru wahdatin lughowiyatin dzaatu al ma’na). obyek ilmu shorof adalah al kalimah. Orang modern tidak mau menggunakan al kalimah, karena masih umum atau global, sehingga menggantinya dengan morfem atau shorfem. Pada dasarnya semua bahasa mengkaji tentang morfem, hal ini sesuai dengan teori Chomsky yaitu bahasa bersifat universal (al qowa’idu al kulliyah).

Contoh: لمسلمون ا terdiri dari 3 morfem, yaitu:

–          Morfem ” ال “

–         Morfem مسلم”

–          Morfem  ” ون”

B.     Klasifikasi Morfem

Morfem berdasarkan kebebasannya dibagi menjadi dua,yaitu:

  1. Morfem bebas (al murfim al hurr), adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan.[2]

Contoh:  بيت، ولد، بنت، رجل dll.

  1. Morfem terikat (al murfiim al muqoyyad), adalah morfem yang jika tidak digabung terlebih dahulu dengan morfem lain maka tidak bisa muncul dalam pertuturan, maksudnya tidak bisa berdiri sendiri.

Contoh: ال” ون، ات، وا dll.

Morfem berdasarkan letaknya yaitu imbuhan (al zawaid) dibagi menjadi tiga, antara lain:

  1. Imbuhan di awal (al sabiqah), contoh: “un” dalam kata “unimportant”, “im” dalam kata “imposible”, dll.
  2. Imbuhan di tengah (al dakhilah), contoh: “e” dalam kata “man” diganti “a” menjadi “man”, wazan “فعل”  diberi imbuhan “ alif” menjadi ” فاعل”  artinya “pelaku”, dll.
  3. Imbuhan di akhir (al lahiqah), contoh: “er” dalam kata “teacher”, “ing” dalam kata “teaching”, dll.[3]

C.    Aplikasi Morfem Dalam Pembelajaran Bahasa Arab

pembelajaran kosakata melalui pendekatan yang disengaja maupun mandiri mengharuskan guru untuk merencanakan berbagai kegiatan dan latihan. Secara umum sebagian besar untuk menekankan pengajaran langsung dari kosakata untuk peserta didik yang masih perlu belajar adalah sekitar 3000 kata, semuanya bisa dikembangkan dengan kegiatan membaca, mendengarkan, menterjemahkan, menebak dari konteks, dan menggunakan kamus. Semuanya ini berperan untuk mengembangkan pengetahuan kosakata peserta didik. [4]

Dalam pembelajaran bahasa arab morfem adalah salah satu bidang yang pertama kali dipelajari dengan kata lain, yaitu mufrodat. Dalam aplikasinya para pengajar menyampaikannya dengan berbagai macam cara dan metode, mulai dari metode audio lingual, metode langsung, sampai metode permainan. Semuanya bertujuan untuk memahamkan anak didik atau murid.

Pada materi ini saya ingin memberikan contoh aplikasi morfem dalam pembelajaran dengan metode permainan. Banyak sumber yang memberikan inspirasi tentang berbagai macam model-model permainan, misalnya sebagai berikut:

  1. Komunikata
  2. Kata selingkung (maknanya berdekatan)
  3. Kartu kata
  4. Kata salah benar
  5. Kata dari gambar
  6. Kata berpasangan[5]
  7. Susun kata
  8. Berburu kata
  9. Sebut kata,dll[6]

Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam penyajian permainan bahasa agar dapat menentukan keberhasilannya. Sebab permainan tidak hanya bisa dipahami secara teoritis, tetapi harus dirancang sedemikian rupa agar tidak terjadi kekeliruan yang berakibat fatal. Karena kunci dari permainan bahasa adalah “keberanian bereksperimen”. Adapun langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam merancang permainan bahasa adalah sebagai berikut:

Persiapan permainan, meliputi:

  • Paham isi dan bentuk permainan
  • Aturlah waktu
  • Pembagian peserta atau kelompok
  • Petunjuk permainan

Prosedur pelaksanaan permainan, meliputi:

  • Pembukaan, seperti: saran sebelum memulai kegiatan (datang lebih awal), pengaturan tempat duduk dan tata letak kelas, ice breaking (pengarahan cara bermain)
  • Memulai bermain
  • Menutup permainan

Evaluasi permainan (termasuk kesimpulan permainan)[7]


[1] M. Afifudin Dimyathi, Ringkasan Materi Ilmu Lughoh,. Hal 9

[2] Abdul Chaer, Linguistik Umum, ( Jakarta: 2003, Rineka Cipta). Hal 151

[3] Ringkasan Muhammad Ali al Khuli. Ilmu Sharaf Morfolojiyah, (Madrasah al Sun: 2011), hal 70

[4] Jack C. Richards and Willy A. Renandya, Methodology in Language Teaching and Anthology of Current Practice (USA: 2002, Cambridge University Press), page 264

[5] Suyatno, Tekhnik Pembelajaran Bahasa dan Sastra, (Surabaya: 2004, Penerbit SIC), Hal 66

[6] Fahul Mujib dan Nailur Rahmawati, Metode Permainan-Permainan dalam Belajar Bahasa Arab, (Yogyakarta: 2011, Diva Press), Cet 1, hal 79

[7] Fahul Mujib dan Nailur Rahmawati, Metode Permainan-Permainan dalam Belajar Bahasa Arab, (Yogyakarta: 2012, Diva Press), Cet 2, hal 44

 SUMBER: Diskusi Kelas, disajikan oleh: Suci Masitatul Choiroh (Kelas C)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *