PENDIDIKAN HOLISTIK DAN PERINTAH PUASA: Sebuah Alternatif Model Komunikasi

by MUHAMMAD THOHIR

(dipresentasikan dalam Seminar Internasional, di UIN Syahid Jakarta, Nopember 2011)

Pendahuluan

Komunikasi efektif dimungkinan menjadi syarat penting dalam penyelenggaran pendidikan holistik, yang disebut John P. Miller (2005: 2) sebagai pendidikan yang memadukan antara sisi  intellectual, emotional, physical, social, aesthetic, dan  spiritual. Hanya saja, jika pendekatan ini tidak dibarengi dengan komunikasi yang baik, maka pribadi dengan karakter unggul yang diharapkan seringkali tinggal harapan. Hal ini dapat terjadi, baik di lembaga pendidikan formal ataupun informal seperti keluarga.

Seperti dalam sebuah pelatihan pendidikan di STESIA Surabaya beberapa bulan lalu, seorang guru mengeluhkan seputar sikap dan perilaku siswa dalam pembelajaran di kelas. Dia menanyakan kepada penulis atas kebingungannya harus bagaimana menghadapi resistensi siswa yang mengemuka di saat dirinya memerintahkan atau memberikan tugas. Sebuah kondisi yang sangat mungkin juga sering dirasakan oleh orang tua terhadap anak-anaknya di rumah.

Pertanyaan ini mengingatkan penulis kembali pada tahun 2008 silam, saat hilangnya seorang pelajar SD berusia 9 tahun di Depok, Jawa Barat.  Konon, anak yang bernama Ahmad Legal Cifani alias Vian itu juga lari dengan membawa uang milik orang tuanya yang berprofesi sebagai notaris, sebesar US$ 10 ribu (± Rp 93 juta). Menurut beberapa sumber TV nasional, Vian hilang justru setelah ibunya, Vivi, menyuruhnya belajar. Karena Vian tak mau belajar, sang ibu lantas memarahinya. Namun, paginya anak itu sudah tak lagi di rumah.

Kasus Vian ternyata terjadi bukan karena kebencian orang tua terhadap anaknya. Justru sebaliknya, sang ibu sangat sayang dan cinta kepada Vian. Akibatnya, sang ibu terlihat sangat shock dan stress sejak kehilangan Vian. Lalu, bagaimanakah semestinya orang tua atau guru mengambil perannya dalam pendidikan holistik untuk mengkomunikasikan hal-hal yang harus dilakukan oleh anak/siswa mereka. Makalah ini akan mencoba mengulas, dengan menjadikan silistika perintah puasa sebagai alternatif jawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *