PENGALAMAN-KU

Bismillah, Memulai Kuliah setelah 14 Tahun Vacum

Bulan September merupakan awal masuk kuliah di Perguruan Tinggi. Pada tahun 2018 ini saya terdaftar sebagai mahasiswa Program Doktoral di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Sebelum masuk program doktoral, saya adalah alumni S1 Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel pada tahun 2001. Setelah lulus S1 saya langsung melanjutkan studi ke jenjang S2 di Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, tepatnya pada September tahun 2002.

Al-Hamdulillah pada September tahun 2004 saya menyelesaikan kuliah kuliah S2. Empat bulan selepas kelulusan S2, tepatnya di bulan Januari 2005 al-Hamdulillah saya lolos seleksi PNS Dosen di IAIN Sunan Ampel. Saya setuju sebagai dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Keguruan sampai dengan sekarang.

Jika dihitung, jarak lulus S2 sampai tahun 2018 sekarang ini sudah 14 tahun, dan selama 14 bulan saya vakum studi baru, pada September 2018 saya mendaftar sebagai mahasiswa pada Program Doktoral UIN Sunan Ampel.

Pada saat lulus S1, saya merencanakan studi di Universitas Khartoum ( Jami’ah al-Khartoum ) Sudan. Persyaratan sudah saya kirimkan melalui kedutaan Sudan di Indonesia pada Sepetember tahun 2001, setelah beberapa bulan menunggu, saya dan dua teman saya mendapat khabar dari pihak kedutaan bahwa untuk pengiriman calon mahasiswa ke Luar Negeri ada sedikit masalah terkait dengan adanya insiden-penyerangan yang terjadi pada Menara Kembar World Trade Center di New York pada bulan September 2001. Pengiriman calon mahasiswa atau tenaga kerja sedikit lebih ketat.

Mendengar khabar itu, saya bersama dua orang teman saya meminta perhatian kepada Prof. Dr. Ahmad Zahro, kami yang telah memberikan penghargaan kepada kami untuk mendaftar kuliah S2 di Sudan, dan beliau pernah belajar di Sudan. Menurut dia lebih baik kami daftar kuliah di Indonesia saja dulu, nanti jika ada pemanggilan untuk berangkat ke Sudan, maka kami bisa mengambil cuti kuliah di Indonesia.

Pada hari yang sama saya bercerita dengan teman-teman satu kost-kostan saya, di anatara mereka ada mbak Virda yang sekarang menjadi staf di Program Doktoral Pascasarjana UIN Sunan Ampel, saya bercerita bahwa pendaftaran S2 saya di Sudan belum ada jawaban.

Kemudian saya bilang, kalau memang saya belum ditaqdirkan untuk kuliah di Sudan, Ya Allah .. semoga nanti saya dipertemukan dengan seseorang alumni sana. Setelah mengatakan hal itu, saya sudah lupa karena memang kami sedang bercerita dan bergurau dengan teman-teman.

Setelah bermusyawarah dengan keluarga, dengan restu kedua orang tua dan saudara-saudara, saya mendaftar kuliah di Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel. Al-hamdulillah , hasil ujian masuk, saya berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari Program Pascasarjana, IAIN Sunan Ampel, dan saya bebas beaya kuliah hingga lulus.

Setelah selesai studi S2, saya ingin langsung melanjutkan ke S3. Namun Ibu saya berpesan, “nikah dulu Nak, baru nanti lanjut sekolah S3”. Setahun setelah kelulusan S2, saya diberikan anugerah oleh Allah Swt., Saya dipertemukan dengan jodoh (suami), tepatnya pada bulan Agustus 2005 kami melangsungkan akad nikah.

Suami saya alumni S1 Universitas al-Azhar Mesir , dan yang lain-lain, untuk Indonesia, belum sampai lulus S2 di Sudan, beliau kembali ke Indonesia dan melanjutkan S2 di Indonesia. Saat resepsi pernikahan, saya juga mengajak teman-teman kost saya, salah satu dari mereka berucap, ” al-Hamdulillah do’a sampean terkabul mbak, tidak ditaqdirkan kuliah di Sudan sekarang mendapatkan pendamping hidup seorang alumni Timur Tengah dan Sudan”.

Subhaanallah, al-Hamdulillah , merupakan anugerah luar biasa, Allah Swt., Sangat sayang kepada saya, sehingga mengabulkan apa yang saya ucapkan itu. Saya dipertemukan dengan seseorang alumni Timur Tengah atau Sudan.

Saya sangat penasaran bagaimana kuliah di sana, jika tidak ada taqdir kuliah di sana maka semoga akan dapat berbagi pengalaman tentang bagaimana kuliah di sana dengan seseorang alumni sana.
Al-hamdulillah, Setelah satu setengah tahun pernikahan, kami dikaruniai seorang putri yang manis dan kami beri nama “Hilwa” lengkapnya “Sabrina Nayla al-Haqq Hilwana Sa’id “.

Pada tahun pertama anak saya sering sakit. Dari mulai radang, diare, sampai gangguan pencernaan dan juga DB. Saya harus ekstra hati-hati karena dia tidak bisa makan nasi atau makanan kasar selama 6 tahun. Hal tersebut yang membuat saya belum sreg dan tidak tega untuk mulai studi ke-S3.

Setelah anak-anak mereka, 7 tahun, al-Hamdulillah sudah seperti anak biasa dalam hal makan, sudah bisa makan nasi dan kue-kue yang biasa dimakan anak seusia dia.

Kemudian saya merencanakan kuliah ke S3, setelah diangkat suami, suami saya jawab, jangan kuliah dulu, nanti saja jika Hilwa sudah dikaruniai adik. Karena menurutnya, saya ini tipe orang yang spaneng-an, jika sudah berkonsentrasi pada satu hal, maka akan berpengaruh terhadap pekerjaan lain. Suami saya khawair kalau saya kuliah S3, nanti saya akan spaneng dengan kuliah S3 dan melupakan program adik untuk Hilwa , hehehehe ..

Setelah 10 tahun, lahirlah anak pertama, al-Hamdulillah Kami dikaruniai adik Hilwa , seorang bayi lucu yang ganteng dan kami beri nama ” Robbah ” tidak membunuh lengkapnya ” Robbah Maulana Sa’id “.

Setelah usia dua tahun, saya kembali ke universitas untuk pendidikan S3 dengan model ijin belajar atau kuliah beaya mandiri (non beasiswa), karena saya ingin tetap mengajar di S1 ​​sambil kuliah S3.

Daan … Alhamdulillah, saya bersyukur banget, karena saya diberikan izin plus diberi bantuan dana beaya kuliah S3 oleh suami saya. Hal tersebut dia lakukan karena, saya telah berhasil mendapat predikat manut pada suami, yaitu manut untuk tidak melanjutkan studi S3 sampai pada waktu yang tepat oleh suami, meskipun saya merasa sangat terlambat untuk melanjutkan studi ke S3 setelah 14 tahun lulus S2.

Namun, saya selalu berharap semoga Allah Swt., Memberikan kemudahan dan kelancaran dalam studi saya ini, meskipun harus kuliah sambil mengajar dan mengasuh anak-anak yang. Saya senantiasa berdoa semoga dapat menyelesikan kuliah dengan tepat waktu dan mendapatkan ilmu yang manfaat barokah dunia dan akherat. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *