“Islam Pesisir” Karya Prof. Dr. Nur Syam

“Islam Pesisir” Karya Prof. Dr. Nur Syam

 

Oleh:
Umi Hanifah, M.PdI

Judul Buku : Islam Pesisir
Penulis : Prof. Dr. Nur Syam
Penerbit : LKiS Yogyakarta
Cetakan : Cetakan ke 1, Februari 2015
Tebal : 323 Halaman

Buku “Islam Pesisir” ini merupakan disertasi doktor dari Prof. Dr. Nursyam di Universitas Airlangga Surabaya. Judul aslinya adalah “Tradisi Islam Lokal Pesisiran”. Buku ini menceritakan tentang agama dan masyarakat dalam bidang antropologi lebih tepatnya tentang kehidupan beragama dan tradisi masyarakat di wilayah pesisir.

Di Indonesia sebelumnya sudah ada beberapa kajian tentang agama dan masyarakat di daerah pedalaman dan pegunungan, sehingga kajian Prof. Dr. Nur Syam ini melengkapi kajian agama dan tradisi masyarakat di Indonesia yang merupakan negara kepulauan/nusantara.

Kajian ini sangat menarik karena dari sejarah, kita tahu bahwa agama Islam masuk bersama dengan datangnya para pedagang muslim dari India, Persia dan Arab yang singgah di Indonesia melalui lintasan laut.

Para pedagang asing yang beragama Islam seringkali menghabiskan hari-hari mereka untuk tinggal di sekitar pesisir yang mereka singgahi. Selama itulah diduga terjadi interaksi yang lebih dekat antara penduduk pribumi dengan para pedagang asing muslim. Saat-saat itulah digunakan oleh para pedagang muslim untuk berdakwah dan berdiskusi masalah agama dengan penduduk pribumi dan al-hasil banyak para penduduk pribumi yang tertarik dengan agama yang dianut oleh para pedagang asing.

Kebudayaan masyarakat pesisir berbeda dengan pedalaman. Di antara yang menonjol, terutama dalam kaitannya dengan Islam adalah ciri masyarakat pesisir yang adaptif terhadap ajaran Islam dibandingkan dengan masyarakat pedalaman yang sinkretik.

Budaya adaptif tersebut menurut Prof. Dr. Nur Syam tampak dalam performance tradisi lokal yang dipandu dan dipedomani oleh Islam dalam coraknya yang mengambil ajaran Islam sebagai kerangka seleksi terhadap budaya lokal bukan mengambil yang relevan sebagaimana budaya pedalaman. Dalam hal ini, bagi masyarakat pesisir, Islam digunakan sebagai kerangka referensi tindakan sehingga seluruh tindakannya merupakan ekspresi ajaran Islam yang telah adaptif dengan budaya lokal.

Prof. Dr. Nur Syam dalam bukunya “Islam Pesisir” ini mengupas tentang tradisi masyarakat Islam di pesisir, tepatnya di daerah Palang Tuban Jawa Timur. Suatu temuan dari disertasi Prof. Dr. Nur Syam adalah tradisi masyarakat Islam pesisir yang sangat unik, tidak bercorak Islam murni tetapi juga tidak kejawen, namun lebih kepada bentuk tradisi Islam yang khas. Yakni tradisi Islam yang berpusat pada masjid, sumur, makam yang dikenal dengan medan budaya (culture sphere).

Medan budaya ini melahirkan budaya Islam lokal yang khas dan berwujud perubahan-perubahan tradisi. Proses lahirnya budaya yang khas tersebut melalui interaksi antar agen dalam penggolongan sosio-relegio-kultural, atau disebut dengan penggolongan social wong abangan, wong NU dan wong Muhammadiyah melalui medan budaya sacral, mistifikastif dan mitologis. Melalui medan budaya tersebut, pewarisan tradisi terjadi dari generasi ke generasi.

Bentuk tindakan yang merupakan wujud perubahan dari tradisi lokal menjadi tradisi Islam lokal dan khas di daerah pesisir, tepatnya di Palang Tuban adalah melakukan berbagai upacara, di antaranya upacara lingkaran hidup seperti tingkepan, brokahan, sunatan, nikahan, dan kematian (nelung dino, mitung dino, petangpuluh dino, nyatus, pendak dan nyewu dino), upacara tolak balak seperti sedekah bumi, upacara pertanian, upacara petik laut atau babakan, upacara hari-hari besar Islam atau upacara kalenderikal seperti muludan, syuroan, rejeban, posoan, dan riyoyoan, dan upacara hari-hari baik seperti pindahan rumah, bepergian dan perdagangan.

Adapun beberapa perubahan dari tradisi lokal ke tradisi Islam lokal yang khas adalah: slametan, kendurenan menjadi tasyakuran, manganan di makam menjadi khaul, bancaan spasaran menjadi aqiqahan, nyadran menjadi sedekah bumi, nyadran laut atau tutup playang menjadi sedekah laut.

Manusia menggunakan bahasa untuk melakukan adaptasi dengan dunia sosio-kultural-nya. Menurut Prof. Dr. Nur Syam, penyesuaian diri atau adaptasi dengan dunia sosio kultural tersebut dapat digambarkan seperti penyesuaian dengan teks-teks suci dan penyesuaian dengan nilai tradisi lama.

Pertama, ungkapan dalam teks-teks suci seperti al-Qur’an dan Hadits dapat dipakai sebagai pijakan untuk memberikan legitimasi tentang “benar’ atau “tidaknya” tradisi yang dilakukan oleh para pendahulu yang disebut sebagai ulama salaf yang salih. Dalam hal ini sarana yang digunakan adalah bahasa dan tindakan. Ungkapan-ungkapan tersebut seperti khutbah jum’at, pengajian rutin, walimah al khitan, walimah al arusy, membaca tahlil, membaca yasin, ziarah kubur.

Kedua, penyesuaian dengan nilai tradisi lama. ada dua tindakan yang ditampilkan dalam proses penyesuaian tindakan masyarakat dengan nilai dalam tradisi lama, yaitu penerimaan dan penolakan.

Adanya masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam ratiban dan khaul di makam suci atau dalam sedekah bumi di sumur wali dan juga dalam upacara lingkaran hidup menandakan bahwa secara umum masyarakat menerima tradisi lama. Walaupun ada juga sebagian masyarakat yang menolak pelestarian nilai dalam tradisi lama tersebut.

Penolakan tersebut juga bersandar pada pemahaman mereka terhadap teks-teks suci (al-Qur’an dan Hadits) dengan menggunakan bahasa seperti anggapan bahwa upacara tersebut adalah bentuk takhayul, bid’ah dan khurafat.

Dari tulisan hasil penelitian Prof. Dr. Nur Syam dalam buku “Islam Pesisir” ini, menunjukkan bahwa konsepsi Geertz tentang sinkretisme atau perpaduan antara budaya Islam, Hindu, Budha, dan Animisme menjadi agama Islam Kejawen, tidak serta merta benar karena ternyata tradisi lokal masyarakat jawa bisa berubah menjadi tradisi Islam lokal yang dinamis.

Dalam buku Islam Pesisir ini, Prof. Dr. Nur Syam juga menjelaskan bahwa pada dasarnya terdapat dua tipologi kajian Islam dalam konteks Islam lokal. Pertama, kajian Islam Iawa bercorak sinkretisme, yaitu perpaduan antara dua atau lebih budaya (Islam, Hindu, Buddha, dan Animisme) menjadi agama Jawa. Yang kedua, tipologi menurut Indonesianis kelahiran Schenectaday, New York, yaitu Mark Woodward.

Woodward menolak pandangan sinkretisme, dan memunculkan corak baru yaitu akulturasi. Pandangan ini melihat Islam dan budaya lokal sebagai sesuatu yang akulturatif, sesuai dengan prosesnya masing-masing. Islam dan budaya lokal bukanlah sesuatu yang antonim tetapi kompatibel. Bukan sesuatu yang berdiri sendiri tetapi saling berkesinambungan.

kedua tipologi di atas telah dijadikan banyak rujukan bagi kalangan akademisi yang menstudi kajian Islam Jawa. Namun, tidak menutup kemungkinan terdapat celah yang masih membutuhkan revisi. Sebagaimama tipologi sinkretisme, kelemahan dari corak ini ialah pengabaian dialog antara Islam dan budaya lokal.

Islam dan budaya lokal yang sesungguhnya selalu bertalian, hal ini tidak ada dalam pembahasan Geertz dan para penyokong tipologi sinkretisme. Dalam corak akulturatif Woodward pun masih menyisakan pertayaan. Bagaimana Islam dipahami dan dikontruksi menjadi proses saling menerima? dan bagaimana Islam berkontribusi dalam konteks praktik ritual yang bersifat lokal?

Sehingga bisa dikatakan, tulisan Prof. Dr. Nur Syam ini merevisi corak sinkretisme Geertz, dan corak akulturatif Woodward dengan mengusung suatu sintesis. Prof. Dr. Nur Syam mengusung tipologi ketiga, yakni Islam kolaboratif. Istilah ini untuk menggambarkan hubungan antara Islam dan budaya lokal yang bercorak akulturatif-sinkretik.

Hubungan tersebut merupakan hasil konstruksi bersama antara agen (elit-elit lokal) dengan masyarakat dalam membentuk dialektika yang terjadi secara terus menerus.

Lebih lanjut Prof. Dr. Nur Syam juga memberikan ciri dengan bangunan Islam yang bercorak khas. Dengan mengadopsi unsur lokal yang tidak bertentangan dengan Islam, dan melalui proses transformasi secara terus menerus dengan melegitimasi pemahaman atas interpretasi teks-teks Islam dan melalui konstruksi sosial yang merupakan momen adaptasi diri dengan dunia sosio-kultural.