“TAREKAT PETANI” Karya Prof. Dr. Nur Syam

“TAREKAT PETANI: Fenomena Tarekat Syattariyah di Kuanyar Manyong Jepara Jawa Tengah” 
Karya Prof. Dr. Nur Syam

Oleh:
Umi Hanifah, M.PdI

Judul Buku: Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal
Penulis        : Prof. Dr. Nur Syam, M.Si
Penerbit     : LKiS Yogyakarta
Cetakan     : Cetakan 1: 2013
Tebal Buku: xiii + 235 Halaman

 

Buku “Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal ” ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., di Desa Kuanyar, Kecamatan Manyong, Kabupaten Jepara Jawa Tengah.

Meskipun hidup di daerah pesisir, warga Desa Kuanyar mayoritas matapencahariannya adalah petani. Buku ini menggambarkan fenomena relegiusitas petani sebagai penganut tarekat Syattariyah pada kehidupan sehari-hari dan memahamkan pembaca tentang makna relegiusitas petani penganut tarekat dalam bingkai ajaran tarekat, kebudayaan Jawa, dan lingkungan sosial.

Dalam penelitian ini, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., menggunakan pendekatan fenomenologi. Sedangkan dalam praktiknya, penelitian fenomenologi memiliki beberapa tahapan yang ditempuh, yaitu:

1)Discovering, atau menemukan topik dan masalah. Penelitian ini mengambil topik tentang kehidupan sehari-hari penganut tarekat dalam interaksinya dengan dunia sekeliling dilihat dari perspektif fenomenologi.

2)Conducting, atau mengkaji secara komprehensif terhadap penelitian-penelitian terdahulu. Pengkajian terhadap penelitian terdahulu sangat penting dilakukan untuk mengetahui orisinilitas penelitian yang dilakukan. Melalui penelusuran penelitian terdahulu akhirnya diketahui bahwa telah ada penelitian tentang tarekat namun secara keseluruhan berbeda dengan topik penelitian yang dilakukan ini.

3)Construcsing, menetukan lokasi penelitian. Desa Kuanyar, Mayong, Jepara, Jawa Tengah sebagai lokasi, sebab tarekat Syattariyah memiliki keunikan, yaitu bercorak lokal, baik dari proses bai’at, geneologi kemursyidannya, dan ajarannya.

4)Developing, atau mengajukan seperangkat pertanyaan untuk wawancara mendalam dan observasi terlibat.

5)Conducting dan Recording, atau melakukan wawancara secara mendalam terhadap subjek dan informasi penelitian serta melakukan observasi secara terlibat serta mencatat secara teliti dan akurat hasil-hasil wawancara dan observasi.

6)Organizing dan Analysing, atau mengorganisasi dan menganalisis data. Data yang sudah terkumpul diorganisasikan berdasarkan konsep dan kategorisasinya dan kemudian dianalisis dengan interpretatif understanding.

Dengan pendekatan fenomenologi ini Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., mencoba untuk memahami dunia kaum tarekat berdasarkan atas “logika’ mereka sendiri. Karena, pada umumnya dunia tarekat masih sering disalahtafsirkan oleh para peneliti, disebabkan adanya jarak antara peneliti dengan penganut tarekat pada saat mengungkap fenomena kehidupan mereka.

Sedangkan dalam pengumpulan data penelitian ini, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., menggunakan dua metode utama, yaitu pengamatan terlibat dan wawancara mendalam. Sebagai peneliti Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari penganut tarekat yakni tarekat Syattariyah dan melakukan wawancara mendalam tentang kehidupan mereka.

Dalam praktek penelitiannya, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si fokus pada pengamatan tindakan-tindakan bermakna dari para penganut tarekat Syattariyah dalam berhubungan dengan masyarakat di sekitarnya, juga dengan mendengarkan apa yang sesungguhnya menjadi pengalaman penganut tarekat Syattariyah yang diungkapkan melalui bahasa dan logika yang mereka miliki.

Perkembangan Islam di Jawa tidak bisa lepas dari peran tarekat. Tarekat dan budaya Jawa tidak berada dalam posisi berlawanan. Melainkan bersifat simbiosis-mutualistik sehingga membentuk budaya khas, yaitu agama kaum sufi (tarekat).

Maka tidak heran jika sejak abad ke-16 dan 17, tarekat telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat nusantara. Tarekat yang berkembang saat itu antara lain tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Syattariyah, Khalwatiyah, Samaniyah dan Alawiyah.

Tarekat Syattariyah didirikan seorang sufi dari India, Abdullah Syattar. Berdasarkan penelusuran Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., bahwa tarekat Syattariyah awalnya berkembang di Baghdad melalui jalur Ahmad Syathori dan dikembangkan Ahmad Qusyasyi.

Tarekat ini berkembang di Nusantara melalui jalur Abdurrauf al-Sinkili di Aceh. Dari Sumatera, tarekat ini berkembang ke Jawa, Banten, Jawa Tengah dan Timur.

Adapun silsilah tarekat Syattariyah di Kuanyar geneologinya kurang jelas. Dari hasil pengkajian buku karya Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., ini diketahui bahwa jalur pengabsahan tarekat Syattariyah hanya sampai kepada Kiai Murtadlo yang dinisbahkan sebagai cicit Syaikh Mutamakin.

Urutannya adalah dari Syaikh Kiai Murtadlo, ke Kiai Abdurahman, Bangle, Kiai Jananim (w. 1918), Kiai Abdul Hadi (w. 1956), dan Kiai Syihabuddin, Kuanyar.

Tarekat Syattariyah berkembang di Kuanyar sekitar tahun 1880-an, ketika beberapa orang dari Kuanyar mengaji ke Bangle. Di sana mereka berguru kepada Kiai Abdurrahman yang merupakan penganut tarekat Syattariyah.

Tarekat Syattariyah Desa Kuanyar, Kecamatan Manyong, Kabupaten Jepara Jawa Provinsi Tengah ini ditengarai sebagai tarekat lokal. Lokalitas tersebut dilihat dari sisi keterpengaruhan (space of influence) sang mursyid dan juga penganutnya, yang rata-rata hanya berasal dari desa setempat dan sekitarnya.

Mayoritas warga Desa Kuanyar merupakan petani dan penganut tarekat Syattariyah. Namun, jika ditinjau dari afiliasi keagamaan, masyarakat Kuanyar terbagi menjadi dua golongan. Golongan penganut Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dari NU terdiri dari anggota tarekat dan NU. Walaupun demikian diantara mereka juga ada yang bisa dikatagorikan sebagai abangan.

Dalam buku “Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal” ini, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., mendeskrispsikan bagaimana kehidupan religus-sosial mereka sebagai petani dan penganut tarekat.

Untuk memperjelas pembahasan, Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., membaginya menjadi lima golongan. Yaitu, golongan petani pedagang, petani semi penganggur, petani penganggur, petani dan penjual jajan, serta petani dan pamong desa.

Dari hasil pembagian tersebut, diketahui terdapat perbedaan cara pandang antar masing-masing golongan dalam menjalani hidup sebagai penganut tarekat Syattariyah.

Misalnya, golongan petani penganggur yang cenderung pasrah total dalam menjalani hidup, sangat berbeda dengan petani pedagang yang lebih menempatkan ikhtiar dan tawakal dalam posisi seimbang.

Kajian Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., dalam buku “Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal” ini juga mencermati beberapa fenomena penganut tarekat Syattariah lokal, di antaranya:

Pertama, kesederhanaan dan gaya hidup mereka. Hal tersebut terlihat dari pola berpakaian mereka yang sangat sederhana. Itu terlihat ketika mereka berpakaian dalam forum resmi, misalnya menghadiri pengajian umum, tawajuhan, tahlilan dan dalam forum-forum tidak resmi seperti ketika di rumah, menerima tamu, ke pasar, atau ke tempat perdagangan.

Kedua, berkaitan daya kerja mereka yang tinggi. Meskipun profesinya petani, dimana waktu kerja keras hanya menjelang masa tanam dan masa panen, mereka memiliki waktu istirahat relatif sedikit, apalagi kalau musim bekerja di sawah, menanam atau panen.

Mereka jarang tidur siang, walaupun malamnya mengikuti pengajian sampai larut malam. Rata-rata mereka tidur sekitar empat sampai enam jam dalam sehari.

Hampir setiap hari mereka pergi ke sawah. Bahkan dari pagi sampai sore mereka masih berkutat dengan usahanya tersebut, mulai dari mengawasi orang bekerja, memanen padi di sawah sampai menimbang gabah dan menjualnya atau mengeringkan di mesin penggiling padi.

Ketiga, berkaitan dengan aktivitas sosial relegius mereka. Walau mereka memiliki waktu istirahat relatif sedikit, akan tetapi kenyatannya juga tidak mengurangi aktivitas lainnya yang terkait dengan kehidupan sosial kemasyarakatannya.

Mereka mendatangi sambatan, mendatangi tahlilan atau pengajian yang meskipun pengajian tersebut diadakan oleh masyarakat yang bukan kelompoknya, mengikuti kegiatan sosial dan ekonomi.

Bagi mereka semua kegiatan yang dilakukan hanya karena Allah Swt., adalah amalan ibadah yang nanti akan dipetik hasilnya. Tujuannya adalah agar memperoleh keserasian antara wirid dan amal sholeh.

Dengan demikian, apa yang diceritakan Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., dalam buku ini menunjukkan bahwa penganut tarekat bukanlah orang yang hidup dalam dunianya sendiri. Melainkan individu yang hidup dalam dunia sosialnya.

Keempat, berkaitan dengan aktivitas ibadah sebagai anggota tarekat. Sebelum di-baiat, penganut tarekat Syattariyah melakukan upacara ke-tarekatan secara sistematis dan terstruktur melalui bimbingan intensif dari mursyidnya.

Mereka harus melaksanakan puasa mutih selama beberapa hari. Setelah itu, mereka akan di-baiat sebagai pertanda telah menjadi anggota baru tarekat Syattariyah.

Dari berbagai kegiatan yang dilakukan sehari-hari mereka melakukan ibadah dengan intens dan kuat. Untuk menjaga kemurnian hati, penganut tarekat rutin mengikuti pengajian, tawajuhan dan wirid.

Secara umum, praktik ibadah mereka lebih intens dibandingkan dengan umat Islam pada umumnya. Salah satunya bisa dilihat dari pelaksanaan ibadah sunnah yang disetarakan dengan ibadah wajib.

Di antara ibadah sunnah yang selalu dilakukannya ialah shalat rawatib empat raka’at sebelum dan sesudah shalat wajib, shalat tahajud, shalat dhuha dan kegiatan wirid yang harus dibacanya sehari semalam sebanyak 3.000 kali.

Dari penelitiannya ini Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., menyimpulkan bahwa fenomena pengikut tarekat Syattariah lokal di Desa Kuanyar, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara Jawa Tengah perilakunya sangat dekat dengan konsepsi budaya Jawa, slamet dan keselamatan.

Dalam berbagai tindakan yang dilakukan maka orang Jawa akan mengedepankan slamet sebagai referensinya. Yaitu, keselamatan di dunia dan di akherat.

Sebagai penganut tarekat mereka menyadari betapa pentingnya menjaga keselamatan di dalam kehidupannya. Itulah sebabnya mereka menyatu dengan budaya Jawa dimana mereka hidup.

Mereka tidak menciptakan sendiri budayanya yang terlepas dari lingkungan sosialnya, akan tetapi menyatukannya di dalam bingkai kehidupan yang memberinya rasa aman tanpa gangguan.

Mereka melakukan upacara slametan dalam berbagai variasinya. Mulai dari upacara lingkaran hidup, upacara hari-hari baik, upacara kalenderikal, upacara tolak balak yang telah menjadi bagian dari kehidupan orang Jawa pada umumnya.

Mereka melakukan upacara-upacara tersebut bertujuan untuk memperoleh keselamatan, harmoni, dan kerukunan sosial. Jalan keselamatan, harmoni, dan kerukunan sosial tersebut ditempuh dengan rukun dengan sesama, dengan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hidup sederhana, dan selalu ingat dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Demikian isi buku karya Prof. Dr. Nur Syam, M.Si., yang berjudul “Tarekat Petani: Fenomena Tarekat Syattariyah Lokal“. Buku ini sangat menarik, karena mengemukakan catatan semi antropologis fenomena kehidupan petani lokal pengikut tarekat Syattariyah yang memberikan wawasan baru bagi kita terutama berkaitan dengan kajian tarekat di Nusantara dengan sudut pandang budaya, bukan politik dan sosial-ekonomi.